Mengungkap Kemampuan Guru PAI dalam Meracik Modul Ajar Kurikulum Merdeka: Siapkah Mereka di SMA Negeri 2 Rumbio Jaya?
Sebuah tinjauan pustaka mendalam tentang kompetensi, tantangan, dan strategi guru PAI dalam menyusun modul ajar inovatif di era Kurikulum Merdeka.
Bab 2 sebuah skripsi memegang peranan krusial sebagai fondasi teoretis dan empiris penelitian. Untuk skripsi Anda yang berfokus pada "Kemampuan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Menyusun Modul Ajar Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 2 Rumbio Jaya", tinjauan pustaka ini akan menyajikan sintesis penelitian relevan, mengupas konsep kunci, dan mengidentifikasi tantangan yang dihadapi guru PAI dalam mengimplementasikan kurikulum transformatif ini, khususnya dalam konteks penyusunan modul ajar di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).
Sorotan Utama
- Kompetensi Guru Kunci Utama: Kemampuan guru PAI, mencakup aspek pedagogik, profesional, kepribadian, sosial, hingga penguasaan teknologi (TPACK), sangat menentukan kualitas modul ajar yang dihasilkan sesuai tuntutan Kurikulum Merdeka.
- Modul Ajar Fleksibel dan Inovatif: Kurikulum Merdeka menuntut modul ajar yang tidak hanya sebagai panduan, tetapi juga adaptif, berpusat pada siswa, terdiferensiasi, dan mampu mengintegrasikan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
- Tantangan Nyata Implementasi: Guru PAI menghadapi berbagai kendala, mulai dari pemahaman kurikulum yang belum mendalam, kesulitan teknis penyusunan modul, keterbatasan sumber daya, hingga kebutuhan adaptasi terhadap teknologi dan perubahan pola pikir.
Memahami Kurikulum Merdeka dalam Konteks PAI SMA
Kurikulum Merdeka hadir sebagai respons terhadap kebutuhan pembelajaran yang lebih relevan, fleksibel, dan berpusat pada peserta didik. Ia memberikan otonomi lebih luas kepada satuan pendidikan dan guru untuk mengembangkan kurikulum operasional dan perangkat ajar yang sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan siswa.
Prinsip Utama Kurikulum Merdeka
Beberapa prinsip fundamental Kurikulum Merdeka meliputi:
- Pembelajaran Terdiferensiasi: Mengakomodasi keragaman kebutuhan, minat, dan tingkat kesiapan belajar siswa.
- Fokus pada Materi Esensial: Memberikan ruang yang cukup untuk pendalaman materi, bukan sekadar keluasan cakupan.
- Pengembangan Karakter: Mengintegrasikan Profil Pelajar Pancasila (Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia; Berkebinekaan global; Bergotong-royong; Mandiri; Bernalar kritis; Kreatif) dalam seluruh proses pembelajaran.
- Fleksibilitas: Memberikan keleluasaan bagi guru untuk memilih atau mengembangkan perangkat ajar dan metode pembelajaran.
Peran PAI dalam Kurikulum Merdeka
Dalam kerangka Kurikulum Merdeka, Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti tidak hanya bertujuan untuk transfer pengetahuan keagamaan, tetapi lebih menekankan pada:
- Pembentukan karakter mulia dan akhlak terpuji.
- Pengembangan pemahaman agama yang moderat, kontekstual, dan mendalam.
- Penanaman nilai-nilai Pancasila melalui ajaran Islam.
- Pembekalan keterampilan hidup (life skills) yang relevan bagi siswa.
Implementasi PAI dalam Kurikulum Merdeka seringkali melibatkan metode pembelajaran yang lebih variatif, seperti pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) melalui P5, pembelajaran kontekstual, dan diskusi interaktif.
Fokus Pembelajaran PAI di Tingkat SMA
Di jenjang SMA, pembelajaran PAI dalam Kurikulum Merdeka dirancang untuk lebih mendalam dan relevan dengan tantangan kehidupan remaja serta persiapan menuju jenjang pendidikan tinggi atau dunia kerja. Fokusnya mencakup penguatan akidah, pemahaman Al-Qur'an dan Hadis secara kontekstual, fiqh muamalah, sejarah peradaban Islam, serta pengembangan akhlak mulia dalam konteks sosial yang lebih luas. Guru dituntut mampu merancang pengalaman belajar yang menantang nalar kritis dan kreativitas siswa.
Modul Ajar: Jantung Implementasi Kurikulum Merdeka
Salah satu elemen kunci dalam implementasi Kurikulum Merdeka adalah pengembangan perangkat ajar, di mana modul ajar memegang peranan sentral. Modul ajar berfungsi sebagai peta jalan bagi guru dan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Definisi dan Fungsi Modul Ajar PAI
Modul ajar PAI dalam Kurikulum Merdeka adalah dokumen yang disusun secara sistematis dan menarik, berisi rencana pelaksanaan pembelajaran untuk satu atau beberapa tujuan pembelajaran. Fungsinya antara lain:
- Memandu guru dalam melaksanakan pembelajaran yang terstruktur dan terarah.
- Membantu siswa belajar secara mandiri maupun terbimbing.
- Menyediakan acuan materi, kegiatan, media, dan asesmen yang jelas.
- Memastikan pencapaian Capaian Pembelajaran (CP) yang telah ditetapkan.
Ilustrasi sampul kumpulan modul ajar PAI untuk Kurikulum Merdeka.
Komponen Esensial Modul Ajar
Meskipun formatnya fleksibel, modul ajar yang komprehensif umumnya mencakup komponen-komponen berikut:
- Informasi Umum: Identitas penulis modul, jenjang sekolah, kelas, alokasi waktu, fase Capaian Pembelajaran.
- Komponen Inti: Tujuan Pembelajaran, Pemahaman Bermakna, Pertanyaan Pemantik, Kegiatan Pembelajaran (termasuk langkah-langkah detail), Asesmen (diagnostik, formatif, sumatif), Pengayaan dan Remedial.
- Lampiran: Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), Bahan Bacaan Guru dan Siswa, Glosarium, Daftar Pustaka.
Penting bagi guru untuk mampu merancang komponen-komponen ini secara koheren dan memastikan adanya diferensiasi untuk melayani kebutuhan belajar siswa yang beragam.
Pentingnya Modul Ajar yang Adaptif dan Inovatif
Kurikulum Merdeka mendorong guru untuk tidak sekadar mengadopsi modul ajar yang sudah ada, tetapi mampu mengadaptasi atau bahkan mengembangkannya sendiri sesuai konteks lokal, karakteristik sekolah, dan kebutuhan spesifik siswa. Modul ajar yang inovatif dapat mengintegrasikan teknologi (misalnya, video pembelajaran, platform online), metode pembelajaran aktif, dan asesmen autentik yang bermakna.
Mengupas Kemampuan Guru PAI dalam Penyusunan Modul Ajar
Keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya dalam penyusunan modul ajar yang efektif, sangat bergantung pada kemampuan dan kompetensi guru PAI.
Dimensi Kompetensi Guru PAI
Secara umum, kemampuan guru PAI yang relevan dengan penyusunan modul ajar mencakup berbagai dimensi kompetensi:
- Kompetensi Pedagogik: Kemampuan memahami karakteristik siswa, merancang pembelajaran yang mendidik, melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi hasil belajar, dan mengembangkan potensi siswa. Ini termasuk kemampuan menerjemahkan CP menjadi Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), serta merancang asesmen yang sesuai.
- Kompetensi Profesional: Penguasaan materi PAI secara mendalam dan luas, serta kemampuan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang relevan dengan bidang PAI.
- Kompetensi Kepribadian: Memiliki sikap dan perilaku yang arif, berwibawa, stabil, dewasa, jujur, berakhlak mulia, dan dapat menjadi teladan bagi siswa.
- Kompetensi Sosial: Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dengan siswa, sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
- Kompetensi Teknologi (TPACK): Kemampuan mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan pengetahuan konten (Technological Pedagogical Content Knowledge) dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran, termasuk dalam menyusun modul ajar digital atau memanfaatkan sumber belajar daring.
Guru PAI berperan penting dalam membimbing siswa memahami ajaran agama dan membentuk karakter.
Visualisasi Kompetensi Kunci Penyusunan Modul Ajar
Grafik radar berikut memvisualisasikan beberapa area kompetensi kunci yang sangat dibutuhkan guru PAI dalam menyusun modul ajar Kurikulum Merdeka secara efektif. Skala penilaian bersifat kualitatif berdasarkan sintesis tantangan dan kebutuhan yang teridentifikasi dalam berbagai penelitian.
Grafik ini mengilustrasikan adanya potensi kesenjangan antara tingkat kepentingan kompetensi yang diharapkan oleh Kurikulum Merdeka dengan tingkat kesiapan rata-rata guru yang mungkin masih perlu ditingkatkan melalui pelatihan dan pengembangan profesional berkelanjutan.
Kesiapan Guru Menghadapi Kurikulum Baru
Penelitian menunjukkan bahwa kesiapan guru, baik secara mental maupun keterampilan, menjadi faktor penentu dalam keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka. Guru perlu dibekali pemahaman yang utuh, pelatihan yang memadai, dan dukungan berkelanjutan agar mampu beradaptasi dan menyusun perangkat ajar seperti modul ajar secara optimal.
Tantangan dan Problematika yang Dihadapi Guru PAI
Implementasi Kurikulum Merdeka dan penyusunan modul ajar tidak lepas dari berbagai tantangan dan problematika yang dihadapi oleh guru PAI di lapangan.
Pemahaman Kurikulum dan Pelatihan
Kurangnya Pemahaman Mendalam
Salah satu tantangan utama adalah kurangnya pemahaman yang komprehensif mengenai filosofi, prinsip, dan struktur Kurikulum Merdeka. Hal ini berdampak pada kesulitan dalam menerjemahkan CP menjadi TP dan ATP yang relevan, serta merancang pembelajaran yang sesuai.
Pelatihan yang Belum Merata dan Mendalam
Meskipun berbagai upaya pelatihan telah dilakukan, seringkali dirasa belum cukup mendalam atau belum menjangkau semua guru secara merata. Kebutuhan akan pelatihan yang lebih spesifik mengenai penyusunan modul ajar PAI yang efektif sangat dirasakan.
Kesulitan Teknis Penyusunan Modul
Menyusun ATP dan Modul Berdiferensiasi
Guru sering mengalami kesulitan dalam menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang logis dan sistematis dari CP. Tantangan lainnya adalah merancang kegiatan pembelajaran dan asesmen yang benar-benar terdiferensiasi sesuai kebutuhan siswa yang beragam.
Merancang Strategi dan Metode Inovatif
Mengubah kebiasaan mengajar dari model tradisional ke pendekatan yang lebih student-centered, project-based, atau kontekstual membutuhkan kreativitas dan upaya ekstra, yang menjadi tantangan tersendiri dalam penyusunan modul ajar.
Mengadopsi vs. Mengadaptasi
Banyak guru cenderung mengadopsi modul ajar yang tersedia di platform digital (seperti Platform Merdeka Mengajar - PMM) tanpa melakukan adaptasi yang signifikan sesuai dengan konteks kelas dan sekolahnya. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan kemampuan adaptasi dan pengembangan modul.
Keterbatasan Sumber Daya dan Akses
Media Penunjang dan Sumber Belajar
Keterbatasan akses terhadap media pembelajaran yang variatif dan sumber belajar yang relevan (baik fisik maupun digital) dapat menghambat guru dalam merancang modul ajar yang kaya dan menarik.
Manajemen Waktu
Beban kerja guru yang padat seringkali membuat alokasi waktu untuk mempelajari kurikulum baru dan menyusun modul ajar yang komprehensif menjadi terbatas.
Adaptasi dengan Teknologi dan Pola Pikir
Kompetensi Digital
Kurangnya kompetensi dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi hambatan dalam mengembangkan modul ajar digital yang interaktif atau memanfaatkan platform pembelajaran online secara efektif.
Mindset Mengajar
Mengubah pola pikir dari 'teacher-centered' menjadi 'student-centered' memerlukan proses adaptasi yang tidak mudah bagi sebagian guru.
Peta Tantangan Guru PAI dalam Penyusunan Modul Ajar
Mindmap berikut menyajikan visualisasi keterkaitan antara berbagai tantangan yang dihadapi guru PAI dalam menyusun modul ajar Kurikulum Merdeka:
Mindmap ini menunjukkan bahwa kemampuan menyusun modul ajar dipengaruhi oleh faktor internal guru (pemahaman, keterampilan, kompetensi) dan faktor eksternal (sumber daya, pelatihan, dukungan).
Kajian Penelitian Relevan
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengkaji implementasi Kurikulum Merdeka dan kemampuan guru, termasuk guru PAI, dalam menyusun perangkat ajar. Temuan-temuan ini memberikan landasan empiris yang penting untuk Bab 2 skripsi Anda.
Studi Kasus dan Temuan Empiris
Penelitian-penelitian sebelumnya menyoroti beragam aspek terkait kemampuan guru PAI dan penyusunan modul ajar:
- Studi di SMAN 6 Kepahiang (Answer D) menunjukkan adanya upaya sekolah membentuk tim penyusun modul ajar, namun menyoroti perlunya penguatan kompetensi guru dalam penguasaan materi, penggunaan media, dan evaluasi.
- Penelitian di SMP Negeri Kecamatan Bathin Solapan (Answer D) menemukan kesulitan guru PAI dalam memahami tahapan penyusunan modul dan cenderung mengadopsi modul dari internet tanpa penyesuaian, mengindikasikan kurangnya pemahaman mendalam dan kemampuan adaptasi.
- Kajian di SMP N 1 Paninggaran (Answer D) menekankan pentingnya kompetensi TPACK (integrasi teknologi, pedagogi, dan konten) bagi guru PAI dalam menyusun modul ajar yang relevan di era digital.
- Analisis di SMAN 3 Kota Bengkulu (Answer C) dan penelitian lain (Answer A, B) secara konsisten mengidentifikasi problematika seperti kurangnya pemahaman kurikulum, kesulitan teknis (menyusun ATP, diferensiasi), kurangnya pelatihan, keterbatasan sumber daya (media, waktu), dan perlunya perubahan mindset sebagai hambatan utama.
- Penelitian tentang adaptasi guru PAI (Answer A, C) menunjukkan bahwa meskipun ada peluang, hambatan dalam implementasi Kurikulum Merdeka masih signifikan, mempengaruhi kemampuan guru dalam mengembangkan perangkat ajar seperti modul.
- Studi strategi guru di SMAN 02 Ponorogo (Answer C) memberikan contoh bagaimana guru PAI berupaya menerapkan pembelajaran kontekstual dan proyek dalam kerangka Kurikulum Merdeka, yang tercermin dalam penyusunan modul ajarnya.
Ringkasan Temuan Kunci Penelitian Terdahulu
Tabel berikut merangkum beberapa temuan kunci dari penelitian relevan terkait kemampuan guru PAI dalam menyusun modul ajar Kurikulum Merdeka:
| Fokus Penelitian | Metodologi (Umum) | Temuan Kunci Terkait Kemampuan Menyusun Modul Ajar | Sumber (Jawaban) |
|---|---|---|---|
| Kompetensi Guru PAI & Implementasi KM di SMAN | Kualitatif/Deskriptif | Kompetensi perlu ditingkatkan (materi, media, evaluasi); Ada upaya tim sekolah menyusun modul. | D |
| Kesulitan Guru PAI Menyusun Modul Ajar di SMP | Kualitatif/Deskriptif | Kesulitan memahami tahapan penyusunan & analisis CP; Cenderung adopsi tanpa adaptasi. | D |
| Pentingnya TPACK dalam Penyusunan Modul Ajar PAI di SMP | Kualitatif | Kompetensi TPACK krusial; Guru perlu integrasikan teknologi secara efektif. | D |
| Problematika Guru PAI dalam Implementasi KM | Kualitatif/Deskriptif | Kurang pemahaman KM, kesulitan teknis (ATP, diferensiasi), kurang pelatihan, terbatasnya sumber daya & waktu. | A, C |
| Adaptasi Guru PAI terhadap KM | Kualitatif | Guru menghadapi hambatan signifikan dalam adaptasi, termasuk dalam pengembangan modul ajar. | A, C |
Tabel ini menggarisbawahi bahwa meskipun konteksnya bervariasi (SMP/SMA), tantangan terkait pemahaman kurikulum, keterampilan teknis penyusunan modul, dan kebutuhan akan pengembangan kompetensi (termasuk TPACK) merupakan isu yang konsisten ditemukan.
Video Terkait: Evaluasi Pembelajaran PAI
Memahami evaluasi proses dan hasil belajar adalah komponen penting dalam menyusun modul ajar yang efektif. Video berikut membahas aspek evaluasi dalam pembelajaran PAI, yang relevan dengan perancangan asesmen dalam modul ajar Kurikulum Merdeka.
Video ini membahas tentang evaluasi proses dan hasil pembelajaran PAI dalam konteks Kurikulum Merdeka, memberikan wawasan tentang bagaimana merancang asesmen yang efektif dalam modul ajar.
Diskusi dalam video ini dapat memberikan perspektif tambahan mengenai bagaimana guru PAI dapat merancang asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif yang sejalan dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka, sebuah elemen vital dalam modul ajar.
Implikasi untuk SMA Negeri 2 Rumbio Jaya
Kontekstualisasi Temuan
Meskipun penelitian yang secara spesifik meneliti kemampuan guru PAI menyusun modul ajar di SMA Negeri 2 Rumbio Jaya belum tentu tersedia secara luas, temuan-temuan umum dari berbagai studi di atas memberikan kerangka kerja yang relevan. Penelitian Anda di SMA Negeri 2 Rumbio Jaya dapat:
- Mengidentifikasi apakah tantangan umum (pemahaman kurikulum, kesulitan teknis, sumber daya, TPACK) juga dialami oleh guru PAI di sekolah tersebut.
- Menganalisis sejauh mana kompetensi guru PAI di SMA Negeri 2 Rumbio Jaya (pedagogik, profesional, TPACK) telah mendukung penyusunan modul ajar Kurikulum Merdeka.
- Mengeksplorasi strategi spesifik yang telah diterapkan oleh guru PAI di sekolah tersebut dalam mengatasi tantangan penyusunan modul ajar.
- Menilai kualitas modul ajar PAI yang telah disusun atau diadaptasi oleh guru di SMA Negeri 2 Rumbio Jaya berdasarkan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka.
- Mengidentifikasi kebutuhan dukungan atau pelatihan spesifik bagi guru PAI di SMA Negeri 2 Rumbio Jaya untuk meningkatkan kemampuan mereka.
Dengan menghubungkan temuan literatur ini dengan data primer dari lapangan (wawancara, observasi, analisis dokumen modul ajar), skripsi Anda dapat memberikan kontribusi pemahaman yang mendalam mengenai konteks spesifik di SMA Negeri 2 Rumbio Jaya.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
Apa sebenarnya Modul Ajar dalam Kurikulum Merdeka?
Modul Ajar adalah dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun guru untuk satu atau beberapa tujuan pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka. Fungsinya sebagai panduan bagi guru dan siswa, mencakup tujuan, materi, kegiatan belajar, media, dan asesmen. Berbeda dari RPP di kurikulum sebelumnya, Modul Ajar lebih fleksibel dan mendorong guru untuk berinovasi serta melakukan diferensiasi sesuai kebutuhan siswa.
Mengapa kemampuan guru PAI sangat penting dalam menyusun Modul Ajar?
Kemampuan guru PAI sangat krusial karena kualitas Modul Ajar secara langsung mempengaruhi kualitas pembelajaran PAI. Guru yang kompeten mampu:
- Menerjemahkan Capaian Pembelajaran (CP) menjadi tujuan dan alur pembelajaran yang jelas dan terukur.
- Merancang kegiatan pembelajaran yang menarik, bermakna, dan sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka (misalnya, diferensiasi, P5).
- Memilih atau mengembangkan materi ajar yang relevan dan kontekstual.
- Mengintegrasikan teknologi secara tepat guna (TPACK).
- Merancang asesmen yang efektif untuk mengukur pemahaman dan perkembangan siswa.
Apa saja tantangan utama yang sering dihadapi guru PAI?
Beberapa tantangan utama meliputi:
- Pemahaman Kurikulum: Masih banyak guru yang belum sepenuhnya memahami filosofi dan implementasi teknis Kurikulum Merdeka.
- Keterampilan Teknis: Kesulitan dalam menyusun ATP, merancang pembelajaran terdiferensiasi, dan mengembangkan asesmen yang variatif.
- Waktu dan Beban Kerja: Terbatasnya waktu untuk mempelajari kurikulum baru dan menyusun modul ajar secara mendalam di tengah beban mengajar dan tugas lainnya.
- Sumber Daya: Kurangnya akses ke sumber belajar yang beragam atau media pendukung.
- Kompetensi Digital: Keterbatasan dalam memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran dan penyusunan modul.
- Pelatihan: Kebutuhan akan pelatihan yang lebih intensif, berkelanjutan, dan spesifik.
Bagaimana cara guru PAI meningkatkan kemampuannya menyusun Modul Ajar?
Guru PAI dapat meningkatkan kemampuannya melalui berbagai cara:
- Pelatihan dan Workshop: Mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah, organisasi profesi, atau lembaga lainnya terkait Kurikulum Merdeka dan penyusunan modul ajar.
- Komunitas Belajar: Bergabung dengan komunitas belajar antar guru (misalnya, MGMP PAI) untuk berbagi praktik baik, diskusi, dan kolaborasi.
- Studi Mandiri: Memanfaatkan sumber belajar online (seperti Platform Merdeka Mengajar), membaca literatur relevan, dan mempelajari contoh-contoh modul ajar yang baik.
- Kolaborasi: Bekerja sama dengan rekan guru lain dalam menyusun atau mereview modul ajar.
- Refleksi dan Evaluasi: Melakukan refleksi setelah mengimplementasikan modul ajar dan meminta umpan balik dari siswa atau rekan sejawat untuk perbaikan berkelanjutan.
- Pendampingan: Memanfaatkan program pendampingan dari pengawas sekolah atau instruktur ahli.
Referensi
-
Analisis Kemampuan Guru Pendidikan Agama Islam Terhadap Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Di Sman 6 Kepahiang - Journal Universitas Pahlawan
- Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 11 SMA Fase F Panduan Lengkap Kurikulum Merdeka - ModulMerdeka.com
-
KOMPETENSI GURU PAI DALAM KURIKULUM MERDEKA DI ERA DIGITAL - STIT Palapa Nusantara Lombok
- TANTANGAN GURU PAI MENGIMPLEMENTASIKAN KURIKULUM MERDEKA - STAIS Syekh Jangkung Pati
- Respon Guru PAI Terhadap Implementasi Kurikulum Merdeka - Jurnal Ilmiah Mahasiswa UIN SU Medan
- Problematika Guru Pendidikan Agama Islam dalam Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar - UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Repository
- Problematika Guru PAI dalam Implementasi Kurikulum Merdeka di SMAN 3 Kota Bengkulu - Journal on Education of Abstact Investigators
Rekomendasi Pencarian Lanjutan
Last updated April 25, 2025