Ajaran Sang Buddha, yang terangkum dalam Tipitaka, mencakup tiga inti utama: Sila (moralitas/disiplin), Samadhi (konsentrasi), dan Panna (kebijaksanaan). Bagi para anggota Sangha, khususnya para bhikkhu dan bhikkhuni, Sila diatur secara rinci dalam bagian Vinaya Pitaka. Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa pada zaman Sang Buddha, jumlah peraturan bagi para bhikkhu tampaknya tidak sebanyak yang ada saat ini, dan peraturan apa saja yang mereka patuhi pada masa itu.
Evolusi peraturan monastik merupakan cerminan dari pertumbuhan dan perkembangan Sangha dari komunitas kecil yang dipimpin langsung oleh Sang Buddha menjadi sebuah organisasi yang tersebar luas. Pada masa awal, ajaran dan bimbingan langsung dari Sang Buddha serta teladan hidup Beliau sudah memadai untuk menjaga keharmonisan dan kemurnian Sangha. Namun, seiring berjalannya waktu, insiden-insiden tertentu mulai terjadi, yang memerlukan penetapan aturan-aturan spesifik untuk mencegah terulangnya pelanggaran dan menjaga integritas Sangha.
Sangha monastik didirikan oleh Sang Buddha setelah pencerahan-Nya. Ajaran pertama Beliau mengenai Empat Kebenaran Mulia disampaikan kepada lima pertapa yang kemudian menjadi murid pertama-Nya dan cikal bakal Sangha bhikkhu. Pada masa-masa awal ini, Sangha masih kecil dan para anggota memiliki kemurnian praktik yang tinggi. Bimbingan langsung dari Sang Buddha merupakan sumber utama instruksi dan disiplin.
Pada dua puluh tahun pertama masa pembabaran Dhamma, landasan peraturan bagi para bhikkhu adalah Ovādapāṭimokkhā, yang terdiri atas tiga syair. Ini lebih merupakan ringkasan prinsip-prinsip mendasar ajaran, menekankan untuk tidak melakukan kejahatan, mengembangkan kebajikan, dan memurnikan pikiran. Disiplin pada masa ini sangat bergantung pada pemahaman dan kesadaran diri para bhikkhu terhadap Dhamma.
Para bhikkhu di zaman Sang Buddha mempraktikkan kehidupan tanpa rumah, mengandalkan derma makanan (pindapata) dari umat awam. Empat kebutuhan pokok mereka adalah pakaian (jubah), makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan. Kehidupan yang sederhana ini bertujuan untuk membebaskan diri dari keterikatan duniawi dan fokus pada pengembangan spiritual.
Salah satu praktik utama para bhikkhu adalah meditasi, sebagai bagian dari pengembangan Samadhi dan Panna. Mereka juga terlibat dalam pembelajaran Dhamma dan diskusi komunal. Ketaatan pada prinsip-prinsip moralitas (Sila) adalah fondasi dari praktik mereka.
Sumber-sumber Buddhis menjelaskan bahwa peraturan monastik, yang kemudian dikodifikasi dalam Vinaya Pitaka, umumnya ditetapkan oleh Sang Buddha sebagai respons terhadap insiden atau pelanggaran tertentu yang terjadi dalam Sangha. Awalnya tidak ada peraturan formal yang banyak, tetapi seiring dengan pertumbuhan Sangha dan masuknya orang-orang dengan latar belakang dan tingkat perkembangan spiritual yang beragam, timbul perilaku yang dianggap tidak sesuai atau dapat merusak harmoni komunitas.
Setiap kali insiden seperti itu terjadi, Sang Buddha akan mengajar para bhikkhu yang terlibat, memberikan teguran jika perlu, dan menetapkan sebuah aturan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Cerita latar belakang munculnya setiap aturan dijelaskan dalam Vinaya Pitaka, khususnya Suttavibhanga.
Sebagai contoh, aturan mengenai penanganan uang ditetapkan setelah Sang Buddha menyadari bahwa menerima dan menggunakan uang dapat mengalihkan perhatian bhikkhu dari tujuan utama pelepasan keduniawian dan membuka peluang untuk keterikatan pada kesenangan indera. Dalam SN 42.10, Sang Buddha menyatakan bahwa kepada siapapun uang diperbolehkan, maka lima jenis kesenangan indera juga diperbolehkan, yang tidak sesuai dengan kehidupan seorang bhikkhu.
Ketergantungan pada umat awam untuk kebutuhan pokok melalui pindapata juga merupakan bagian dari disiplin yang mengajarkan kerendahan hati dan melepaskan kemelekatan pada harta benda. Aturan terkait makanan, seperti hanya makan dua kali sehari (pagi dan siang) dan tidak makan setelah tengah hari, juga bertujuan untuk pengendalian diri.
Meskipun jumlahnya bertambah seiring waktu, peraturan yang paling mendasar sudah ada sejak zaman Sang Buddha. Kode disiplin utama terkumpul dalam Vinaya Pitaka, yang terdiri dari tiga bagian utama: Suttavibhanga (penjelasan aturan-aturan Pātimokkha), Khandhaka (aturan-aturan yang berkaitan dengan prosedur komunal dan kehidupan monastik), dan Parivāra (ringkasan dan analisis). Pātimokkha adalah inti dari Suttavibhanga dan merupakan kumpulan aturan yang harus dihafal dan dibacakan oleh para bhikkhu dan bhikkhuni secara berkala dalam pertemuan Uposatha.
Pātimokkha bagi bhikkhu, dalam tradisi Theravada, berjumlah 227 aturan, sementara untuk bhikkhuni berjumlah 311 aturan. Perbedaan jumlah ini mencerminkan aturan tambahan yang spesifik untuk kehidupan bhikkhuni. Aturan-aturan ini dikelompokkan berdasarkan tingkat keparahan pelanggarannya:
| Kategori Aturan | Jumlah (Bhikkhu Theravada) | Penjelasan Singkat |
|---|---|---|
| Pārājika | 4 | Pelanggaran paling serius yang mengakibatkan pengusiran permanen dari Sangha. Meliputi hubungan seksual, mencuri dengan nilai tertentu, mengambil kehidupan manusia, dan menyatakan pencapaian spiritual yang belum dicapai. |
| Saṅghādisesa | 13 | Pelanggaran serius yang memerlukan pertemuan Sangha untuk penyelesaian, biasanya melibatkan masa percobaan. |
| Aniyata | 2 | Aturan yang tidak pasti, di mana sebuah insiden yang melibatkan seorang wanita di tempat tertutup dinilai berdasarkan pengakuan bhikkhu atau keterangan umat awam. |
| Nissaggiya Pācittiya | 30 | Pelanggaran yang memerlukan pelepasan suatu benda (seperti jubah atau mangkuk) sebelum pengakuan. |
| Pācittiya | 92 | Pelanggaran yang memerlukan pengakuan saja. |
| Pāṭidesaniya | 4 | Pelanggaran terkait makanan yang memerlukan pengakuan khusus. |
| Sekhiya | 75 | Aturan tentang tata krama dan cara berperilaku yang pantas. |
| Adhikaraṇasamatha | 7 | Prosedur untuk menyelesaikan perselisihan dalam Sangha. |
Pada zaman Sang Buddha, aturan-aturan ini ditetapkan satu per satu seiring kebutuhan. Artinya, di awal pembentukan Sangha, hanya aturan-aturan Pārājika yang mungkin sudah ada atau paling cepat ditetapkan karena menyangkut pelanggaran fundamental yang menghancurkan kehidupan monastik. Aturan-aturan lain muncul kemudian sebagai respons terhadap berbagai situasi.
Selain aturan Pātimokkha, Vinaya Pitaka juga memuat Khandhaka, yang mengatur berbagai aspek kehidupan komunal, seperti prosedur penahbisan (Pabbajja dan Upasampada), pertemuan Uposatha, masa Vassa (retret musim hujan), dan upacara Kathina. Aturan-aturan ini juga berkembang dari waktu ke waktu berdasarkan kebutuhan praktis Sangha yang terus tumbuh.
Masa Vassa, retret selama musim hujan, merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman Sang Buddha. Selama periode ini, para bhikkhu berdiam di satu tempat untuk menghindari perjalanan yang dapat merusak tanaman dan serangga. Ini menjadi masa intensifikasi praktik spiritual dan studi Dhamma-Vinaya.
Perbedaan penomoran dan daftar Sidang Agung Buddhis menunjukkan bahwa interpretasi dan pelestarian Vinaya dapat bervariasi antar aliran. Setelah umat Buddha awal terpecah menjadi 18 aliran, masing-masing dilaporkan memiliki Tripitaka (termasuk Vinaya) dan Pātimokkha-nya sendiri.
Pembentukan Sangha Bhikkhuni terjadi belakangan, atas permintaan Mahapajapati Gotami dan 500 wanita lainnya, yang akhirnya disetujui Sang Buddha dengan syarat mereka menerima Delapan Garudhamma (aturan berat). Delapan aturan ini seringkali menjadi subjek diskusi karena dianggap menempatkan bhikkhuni di bawah otoritas bhikkhu, meskipun ada perdebatan tekstual mengenai asal-usul dan interpretasinya.
Selain ketaatan pada Vinaya untuk diri sendiri dan komunitas, para bhikkhu juga memiliki peran penting dalam membimbing umat awam. Ini mencakup memberikan ajaran (Dhamma), nasihat, dan menjadi teladan dalam perilaku etis.
Secara keseluruhan, peraturan bagi para bhikkhu pada zaman Sang Buddha memang lebih sedikit pada awalnya karena komunitas masih kecil dan murni, dengan bimbingan langsung dari Guru Agung. Jumlah peraturan bertambah secara bertahap sebagai respons terhadap kebutuhan untuk menjaga disiplin, keharmonisan, dan reputasi Sangha seiring dengan pertumbuhannya. Peraturan yang ditaati pada masa itu adalah prinsip-prinsip dasar Sila, Samadhi, dan Panna, serta aturan-aturan spesifik (yang kemudian menjadi bagian dari Vinaya Pitaka) yang ditetapkan oleh Sang Buddha untuk menangani insiden-insiden yang timbul.
Video berikut membahas tradisi pemakaian jubah oleh bhikkhu, yang merupakan salah satu aspek dari disiplin monastik (Vinaya) terkait kebutuhan pokok:
Video ini memberikan perspektif tentang bagaimana aturan dan tradisi terkait jubah, salah satu dari empat kebutuhan pokok bhikkhu, dipraktikkan dan didiskusikan. Ini relevan karena menunjukkan bahwa bahkan aspek praktis kehidupan monastik seperti pakaian diatur dalam Vinaya, yang berkembang menjadi seperangkat aturan yang komprehensif.
Vinaya Pitaka adalah salah satu dari tiga keranjang (Pitaka) dalam Tipitaka, kitab suci agama Buddha. Vinaya Pitaka berisi kumpulan peraturan dan disiplin untuk Sangha monastik (bhikkhu dan bhikkhuni). Aturan-aturan ini mencakup panduan perilaku, prosedur komunal, dan cara menyelesaikan perselisihan.
Jumlah peraturan bagi bhikkhu bervariasi tergantung pada aliran Buddhis. Dalam tradisi Theravada, Pātimokkha untuk bhikkhu terdiri dari 227 aturan. Aliran atau tradisi lain mungkin memiliki jumlah yang sedikit berbeda, misalnya ada yang menyebut 253 aturan, mencerminkan perbedaan dalam kompilasi Vinaya mereka.
Jumlah peraturan bagi bhikkhuni (311 dalam tradisi Theravada) lebih banyak daripada bhikkhu (227). Perbedaan ini mencakup aturan-aturan tambahan yang spesifik untuk kehidupan bhikkhuni, serta Delapan Garudhamma yang ditetapkan oleh Sang Buddha saat pembentukan Sangha Bhikkhuni. Perbedaan ini sering menjadi topik diskusi dan studi.
Pātimokkha adalah inti dari kode disiplin monastik yang terkandung dalam Suttavibhanga dari Vinaya Pitaka. Pātimokkha adalah daftar aturan yang harus dihafal dan dibacakan oleh para anggota Sangha dalam pertemuan komunal (Uposatha) setiap dua minggu sekali. Pembacaan ini bertujuan untuk mengingatkan para bhikkhu dan bhikkhuni akan komitmen mereka terhadap disiplin dan memberikan kesempatan untuk mengakui pelanggaran.
Hukuman atau konsekuensi bagi pelanggaran Vinaya bervariasi tergantung pada kategori aturannya. Pelanggaran Pārājika (ada 4) mengakibatkan pengusiran permanen dari Sangha. Pelanggaran Saṅghādisesa (ada 13) memerlukan pertemuan Sangha dan biasanya melibatkan masa percobaan dan rehabilitasi. Pelanggaran kategori yang lebih ringan (seperti Pācittiya) memerlukan pengakuan di hadapan bhikkhu lain.